Bahasa Inggris Berbasis Cinta:  Mengintegrasikan Deep Learning dan  Pedagogi SOLO di Sekolah Oleh: Dr. Kalayo Hasibuan, M.Ed.-TESOL Dosen Home Base Pascasarajana UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Bahasa Inggris Berbasis Cinta:   Mengintegrasikan Deep Learning dan   Pedagogi SOLO di Sekolah  Oleh: Dr. Kalayo Hasibuan, M.Ed.-TESOL  Dosen Home Base Pascasarajana  UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Bahasa Inggris Tidak Cukup Hanya Diajarkan; 

Tapi Perlu Dihidupkan

Ada pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan kembali tentang

 pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah:

Untuk apa sebenarnya siswa belajar Bahasa Inggris?

Selama bertahun-tahun, keberhasilan pembelajaran Bahasa Inggris sering dikaitkan dengan penguasaan vocabulary, grammar, kemampuan membaca teks, menjawab soal, atau memperoleh nilai tinggi dalam ujian. Semua kemampuan tersebut tentu penting. Namun, pendidikan bahasa tidak semestinya berhenti pada kemampuan siswa mengetahui struktur bahasa. Bahasa adalah alat untuk berpikir, berkomunikasi, membangun hubungan, memahami budaya, menyampaikan gagasan, dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial. Karena itu, pembelajaran Bahasa Inggris perlu bergerak dari sekadar learning English menuju learning through English, dan akhirnya using English for meaningful life.

Gagasan tersebut memiliki hubungan erat dengan Outcome-Based Education (OBE), Deep Learning, Taksonomi (Structure of Observable Learning Outcomes (SOLO), serta pendidikan EFL transformatif. Dalam buku Outcome-Based TEFL and Curriculum Design: Integrating Islamic Perspectives, saya menempatkan desain kurikulum dan pembelajaran TEFL dalam hubungan yang sistematis antara learning outcomes, tujuan pembelajaran, pengalaman belajar, materi, aktivitas, nilai, dan asesmen (Hasibuan, 2026). Dengan perspektif tersebut, pembelajaran Bahasa Inggris tidak cukup dinilai dari seberapa banyak materi telah disampaikan guru, tetapi dari apa yang benar-benar mampu dipahami, dilakukan, diciptakan, dan direfleksikan siswa.

Gagasan tersebut semakin diperluas dalam buku Transformative EFL Education: Integrating Islam, Culture, Local Wisdom, Sustainable Development, and Educational Innovation, yang menempatkan pendidikan EFL dalam kerangka yang lebih luas: Islam, budaya, kearifan lokal, pembangunan berkelanjutan, dan inovasi pendidikan (Hasibuan et al., 2026). Dari sinilah gagasan Bahasa Inggris Berbasis Cinta memperoleh landasan yang lebih utuh.

Dari Bahasa sebagai Mata Pelajaran Menuju Bahasa sebagai Jalan Kehidupan

Bahasa Inggris merupakan bahasa global yang memiliki posisi penting dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi internasional, dan dunia kerja. Namun, globalisasi Bahasa Inggris tidak berarti bahwa pembelajarannya harus melepaskan identitas lokal dan nilai-nilai masyarakat Indonesia. Sebaliknya, Bahasa Inggris dapat digunakan untuk memperkenalkan budaya, kearifan lokal, nilai keagamaan, lingkungan, sejarah, dan identitas Indonesia kepada masyarakat global.

Dalam Teaching English as a Foreign Language (TEFL), Hasibuan dan Ansyari (2007) menempatkan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bidang yang memerlukan pemahaman terhadap prinsip, pendekatan, metode, materi, dan praktik pembelajaran yang sesuai dengan konteks pendidikan. Pemikiran tersebut berkembang dalam English as a Foreign Language (EFL) Instruction with Islamic Perspectives, yang menghubungkan pengajaran Bahasa Inggris dengan bahasa, komunikasi, budaya, agama, literasi, dan konteks pendidikan Islam (Hasibuan & Sutarmo, 2023).

Kemudian, melalui Outcome-Based TEFL and Curriculum Design: Integrating Islamic Perspectives, perspektif tersebut bergerak dari metodologi menuju desain kurikulum berbasis hasil (Hasibuan, 2026). Sementara itu, Transformative EFL Education memperluas cakrawala tersebut dengan menghubungkan EFL dengan Islam, budaya, local wisdom, sustainable development, dan educational innovation (Hasibuan et al., 2026).

Keempat perspektif tersebut dapat dibaca sebagai sebuah kesinambungan “TEFL ? Islamic EFL ? Outcome-Based TEFL ? Transformative EFL Education”. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Inggris tidak harus ditempatkan berhadapan dengan nilai lokal dan keagamaan; yang diperlukan adalah integrasi yang pedagogis, kontekstual, transformatif, dan berorientasi pada hasil belajar.

Apa yang Dimaksud dengan Bahasa Inggris Berbasis Cinta?

Bahasa Inggris Berbasis Cinta bukan berarti menjadikan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai pelajaran agama. Konsep ini juga bukan berarti setiap materi Bahasa Inggris harus dipenuhi dengan istilah keagamaan. Lebih jauh daripada itu, cinta merupakan orientasi nilai dalam merancang pengalaman belajar Bahasa Inggris.

Dalam konteks pendidikan Islam, cinta dapat diarahkan kepada:

Hubb Allah — cinta kepada Allah; 

Hubb al-Rasul — cinta kepada Rasulullah; 

Hubb al-Nafs — cinta kepada diri sendiri; 

Hubb al-Nas — cinta kepada sesama manusia; 

Hubb al-Watan — cinta kepada tanah air; 

Hubb al-'Alam — cinta kepada alam dan lingkungan. 

Hubb al-‘ilm – cinta kepada ilmu.

Nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran tanpa menghilangkan tujuan utama pengembangan kompetensi Bahasa Inggris. Misalnya: 

Ketika siswa belajar descriptive text, mereka dapat mendeskripsikan lingkungan sekolah, masjid, desa, atau objek budaya lokal; 

Ketika mempelajari procedure text, mereka dapat menulis prosedur menjaga kebersihan kelas;

Ketika mempelajari narrative text, mereka dapat membaca cerita rakyat daerah.

Ketika mempelajari report text, mereka dapat menulis laporan mengenai flora dan fauna lokal;

Ketika belajar argumentative writing, mereka dapat mendiskusikan persoalan lingkungan, pendidikan, kehidupan sosial, atau penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, nilai cinta tidak ditempelkan pada pembelajaran setelah materi selesai, tetapi ditanamkan melalui tujuan, materi, aktivitas, interaksi, dan asesmen pembelajaran.

Dari Content-Based Menuju Outcome-Based Learning

Salah satu persoalan dalam pembelajaran Bahasa Inggris adalah kecenderungan mengejar penyelesaian materi. Bab demi bab diselesaikan; Grammar demi grammar diajarkan; Kosakata demi kosakata dihafalkan. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah “Apa yang benar-benar dapat dilakukan siswa setelah pembelajaran? Inilah prinsip penting dalam OB”. Hasibuan (2026) menekankan pentingnya keterkaitan antara outcomes, curriculum design, course design, instructional activities, materials, dan assessment.

Jika capaian pembelajaran menghendaki siswa mampu menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi secara bermakna, aktivitas pembelajaran harus memberi kesempatan kepada siswa untuk benar-benar berkomunikasi.

Jika capaian pembelajaran menghendaki kemampuan berpikir kritis, siswa harus diberikan persoalan yang menuntut analisis dan evaluasi.

Jika capaian pembelajaran menghendaki karakter dan nilai, nilai tersebut harus hadir dalam pengalaman belajar, bukan hanya tertulis dalam dokumen kurikulum.

Dengan kata lain “Begin with the outcome, design the learning experience, and assess what students are actually able to demonstrate”.

Dari Outcome-Based Menuju Transformative EFL Education

Namun, apakah capaian pembelajaran cukup berhenti pada kemampuan berbahasa?Di sinilah konsep transformative EFL education menjadi penting. Judul buku Transformative EFL Education: Integrating Islam, Culture, Local Wisdom, Sustainable Development, and Educational Innovation sendiri menunjukkan bahwa pembelajaran EFL dapat dipandang bukan hanya sebagai proses pengembangan kompetensi linguistik, tetapi sebagai ruang untuk mengintegrasikan nilai Islam, budaya, kearifan lokal, keberlanjutan, dan inovasi pendidikan (Hasibuan et al., 2026). Dengan perspektif tersebut, pertanyaan pembelajaran berubah “Bukan hanya “Can students speak English?, tetapi juga “What can students understand through English; What values can they develop?; What local knowledge can they communicate?; What problems can they address?; What positive transformation can they contribute to?” Inilah yang membedakan language learning dari transformative language education. Bahasa Inggris menjadi sarana transformasi, bukan sekadar objek pembelajaran.

Deep Learning: Belajar dengan Kesadaran, Makna, dan Kegembiraan

Pembelajaran Mendalam bukan belajar dengan memberikan materi lebih banyak kepada siswa. Bukan pula memberikan pekerjaan rumah lebih banyak. Pembelajaran Mendalam menekankan pengalaman belajar yang mindful, meaningful, dan joyful—berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, prinsip ini dapat diterjemahkan secara sederhana.

(A) Mindful -  Siswa menyadari: What am I learning? Why am I learning it?

(B) Meaningful -  Siswa bertanya: Why is this important to me and my community?

(C) Joyful - Siswa mengalami kegembiraan karena berhasil memahami, menggunakan, menciptakan, dan membagikan sesuatu melalui Bahasa Inggris. Kegembiraan bukan berarti kelas harus selalu penuh permainan. Kegembiraan dapat muncul ketika siswa menemukan “Saya ternyata bisa”

Dari Surface Learning Menuju Deep Learning

Dalam pembelajaran yang dangkal, siswa mungkin menghafalkan “pollution, waste, recycle, environment, forest.: Namun, hafalan tersebut baru merupakan permulaan. Pembelajaran mendalam mengajak siswa bergerak lebih jauh “Vocabulary ? Meaning ? Connection ? Application ? Reflection ? Creation.” Siswa tidak hanya mengetahui arti pollution, tetapi memahami jenis pencemaran, mengidentifikasi pencemaran di sekitarnya, menjelaskan penyebabnya dalam Bahasa Inggris, mendiskusikan dampaknya, dan merancang solusi. Pada titik itu, Bahasa Inggris menjadi alat untuk berpikir dan bertindak.

Di Sinilah Pedagogi SOLO Dibutuhkan

Persoalannya kemudian adalah “Bagaimana guru mengetahui bahwa pembelajaran siswa benar-benar semakin mendalam?” Salah satu jawabannya adalah menggunakan Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome). Biggs dan Collis (1982) mengembangkan SOLO sebagai kerangka untuk melihat perkembangan kualitas hasil belajar. Perkembangannya bergerak dari “Pre-structural ? Uni-structural ? Multi-structural ? Relational ? Extended Abstract”. Kerangka ini tidak hanya melihat apakah jawaban siswa benar atau salah, tetapi seberapa kompleks siswa menggunakan dan menghubungkan pengetahuan. Dalam konteks OBE, hal ini sangat penting karena capaian pembelajaran perlu dibuktikan melalui kinerja siswa. Dengan demikian, SOLO dapat menjadi salah satu instrumen pedagogis untuk menjawab: Seberapa jauh siswa telah mencapai outcome yang diharapkan? Contoh Pedagogi SOLO dalam Pembelajaran Bahasa Inggris”

Ambil tema: Our Environment, Our Responsibility

(2)Pre-structural: Siswa belum memahami hubungan antara topik dan tugas.

Uni-structural: Siswa mengetahui satu aspek - Plastic waste is dangerous.

Multi-structural: Siswa dapat menyebutkan beberapa aspek - Plastic waste pollutes rivers, harms animals, and makes the environment dirty.

Relational: Siswa menghubungkan sebab, akibat, dan solusi - Plastic waste pollutes rivers because people throw plastic into the water. This can harm fish and other animals. Therefore, people should reduce single-use plastic.

Extended Abstract: Siswa menghasilkan gagasan baru - Our school should establish a plastic-free campaign involving students, teachers, parents, and the local community.

Pada tahap ini, siswa telah menggunakan Bahasa Inggris untuk menganalisis, menghubungkan, menciptakan, dan mentransfer gagasan. Inilah pembelajaran yang benar-benar mendalam.

Empat Pilar Pembelajaran Bahasa Inggris Transformatif

Jika gagasan OBE, Deep Learning, SOLO, dan Transformative EFL Education dipadukan, pembelajaran Bahasa Inggris dapat dibangun di atas empat pilar:

1. Outcome -  Apa yang harus dapat dilakukan siswa?

2. Value - Nilai apa yang hendak dihidupkan melalui pembelajaran?

3. Depth - Seberapa mendalam siswa memahami dan menghubungkan pengetahuan?

4. Transformation - Perubahan apa yang terjadi pada cara siswa berpikir, berkomunikasi, bersikap, dan bertindak?

Dengan demikian “OBE menentukan arah, cinta memberikan nilai, Deep Learning memberikan kedalaman, SOLO memetakan perkembangan berpikir, dan pendidikan transformatif menghubungkan pembelajaran dengan perubahan kehidupan.”

Islam, Budaya, dan Kearifan Lokal

Salah satu kekuatan pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia adalah kekayaan konteks lokal.Siswa dapat belajar Bahasa Inggris melalui: gotong royong, Dalihan Na Tolu, alam takambang jadi guru, Tri Hita Karana, tradisi Melayu, budaya pesantren, kearifan masyarakat pesisir, dan berbagai praktik budaya lainnya. Hal ini sejalan dengan orientasi buku Transformative EFL Education, yang menempatkan Islam, culture, dan local wisdom sebagai bagian dari pengembangan pendidikan EFL transformatif (Hasibuan et al., 2026.). Dengan demikian, Bahasa Inggris bukan alat untuk menggantikan budaya lokal. Sebaliknya “Bahasa Inggris menjadi alat untuk menjelaskan budaya lokal kepada dunia”.

Bahasa Inggris untuk Memperkenalkan Indonesia kepada Dunia

Siswa Indonesia tidak harus terus-menerus belajar Bahasa Inggris melalui konteks negara-negara berbahasa Inggris. Mereka dapat belajar “How to describe Indonesian traditional houses; How to explain gotong royong; How to introduce Dalihan Na Tolu; How to explain Indonesian biodiversity; How to describe local food; How to introduce Indonesian Muslim traditions; or How to explain local environmental wisdom. Dengan demikian, Bahasa Inggris menjadi jembatan antara lokal dan global. Siswa tidak kehilangan identitas karena belajar Bahasa Inggris. Sebaliknya, mereka memperoleh alat untuk mengatakan kepada dunia “This is who we are".

Cinta kepada Lingkungan dan Sustainable Development

Dimensi ekologis menjadi semakin penting dalam pendidikan masa kini.Kecintaan kepada alam dapat menjadi sumber pembelajaran Bahasa Inggris yang sangat kaya. Tema seperti: forest conservation, river pollution, climate change, biodiversity, waste management, clean water, green school, and sustainable communities, dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan bahasa sekaligus kesadaran ekologis. Di sinilah gagasan sustainable development dalam Transformative EFL Education memperoleh relevansinya (Hasibuan et al., 2026). Siswa dapat membaca teks tentang lingkungan, mendengarkan informasi, berdiskusi, melakukan observasi, menulis laporan, dan mempresentasikan solusi. Bahasa Inggris menjadi alat untuk memahami persoalan keberlanjutan.

Bahkan Permainan Dapat Menjadi Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran mendalam tidak selalu berarti pembelajaran yang serius dan kaku. Permainan dapat digunakan apabila memiliki tujuan pedagogis yang jelas. Dalam penelitian Hasibuan, Fadilah, Jannah, dan Nabila (2026), game-based learning dibahas sebagai strategi pembelajaran bahasa yang dapat dikaitkan dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Demikian pula, Hasibuan, Sutarmo, Natasha, dan Alfindodes (2026) membahas edutainment games dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang berorientasi pada Islam dan SDGs. Namun, permainan tidak boleh berhenti pada "bersenang-senang". Pertanyaan pedagogisnya tetap “Apa yang dipelajari?; Seberapa dalam siswa berpikir?; Bagaimana siswa menggunakan bahasa?; Apa nilai yang berkembang?; dan Apa outcome yang dicapai?

Guru Tidak Lagi Hanya Mengajarkan Grammar

Paradigma ini tentu mengubah peran guru Bahasa Inggris. Guru tidak berarti meninggalkan grammar. Grammar tetap penting. Vocabulary tetap penting. Pronunciation tetap penting.

Reading, listening, speaking, dan writing tetap penting. Namun, semua unsur tersebut ditempatkan sebagai alat untuk mencapai komunikasi dan pembelajaran yang lebih bermakna. Guru menjadi perancang pengalaman belajar - Guru bertanya “What do students need to understand? - What should they be able to do? - What values should they experience? - How can they demonstrate deeper understanding? - How can SOLO help me observe their development? - How will assessment demonstrate the intended learning outcomes?- How can learning transform students' relationship with themselves, others, culture, and environment? Pertanyaan terakhir menghubungkan OBE dengan pendidikan EFL transformatif.

Materi Bahasa Inggris Juga Harus Berubah

Tidak mungkin kita mengembangkan Bahasa Inggris Berbasis Cinta jika buku dan materi pembelajaran terus-menerus menggunakan konteks yang jauh dari kehidupan siswa. Materi perlu menghadirkan “keluarga, sekolah, masyarakat, budaya lokal, lingkungan, sejarah, tokoh lokal, kearifan lokal, kehidupan keagamaan, persoalan social, pembangunan berkelanjutan, teknologi. dan kehidupan global. Dalam perspektif desain kurikulum berbasis outcome, pemilihan materi harus membantu siswa mencapai outcome yang telah ditetapkan (Hasibuan, 2026). 

Sementara dalam pendidikan EFL transformatif, materi juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan bahasa, nilai, budaya, kearifan lokal, keberlanjutan, dan inovasi (Hasibuan et al., 2026). Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar "What English materials should we teach?" tetapi “What knowledge, values, skills, and experiences should students gain through English?”

Asesmen Harus Mengikuti Kedalaman Pembelajaran

Perubahan pembelajaran tanpa perubahan asesmen akan menghasilkan kontradiksi.

Jika guru mengajarkan siswa untuk berpikir kritis tetapi ujian hanya menanyakan hafalan, siswa akhirnya akan kembali mengejar hafalan. Karena itu, asesmen Bahasa Inggris perlu bergerak dari “Remembering ? Understanding ? Applying ? Connecting ? Creating ? Reflecting”.

SOLO dapat digunakan sebagai salah satu dasar penyusunan rubrik.

Level SOLO

Fokus asesmen

Uni-structural

Mengidentifikasi satu gagasan

Multi-structural

Menggunakan beberapa informasi

Relational

Menghubungkan berbagai gagasan

Extended Abstract

Menghasilkan gagasan baru dan mentransfernya

 

Dalam OBE, asesmen tersebut harus kembali kepada outcome.

Dengan demikian, terjadi constructive alignment “Learning Outcomes ? Learning Activities ? Assessment.” Ketiga unsur tersebut harus saling mendukung (Hasibuan, 2026).

Jangan Jadikan "Cinta" Sekadar Slogan

Ada risiko ketika konsep baru masuk ke dunia pendidikan: ia mudah menjadi jargon.

Kita dapat menulis “Kurikulum Berbasis Cinta, Deep Learning, SOLO Taxonomy.Outcome-Based Education, Transformative EFL Education. Tetapi jika praktik pembelajarannya masih berupa ceramah, hafalan, latihan soal, dan ujian semata, perubahan tersebut hanya terjadi pada dokumen. Cinta harus terlihat dalam:

(1) Cara guru berbicara kepada siswa.

(2) Cara guru menghargai kesalahan siswa.

(3) Materi yang dekat dengan kehidupan siswa.

(4) Kesempatan siswa untuk berpendapat.

(5) Kesediaan guru mendengarkan.

(6) Asesmen yang membantu siswa berkembang, dan

(7) Menghasilkan kebaikan bagi diri, masyarakat, bangsa, dan lingkungan.

Tantangan Implementasi

Tentu saja pendekatan ini tidak mudah. Ada sedikitnya lima tantangan, antara lain: Pertama, kesiapan guru - Guru perlu memahami OBE, Deep Learning, SOLO, pembelajaran berbasis proyek, asesmen autentik, integrasi nilai, dan pedagogi transformatif. Kedua, bahan ajar - Tidak semua buku menyediakan konteks lokal, budaya, agama, dan lingkungan yang memadai. Ketiga, waktu - Pembelajaran mendalam membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan sekadar memberikan materi dan latihan. Keempat, asesmen - Guru perlu mengembangkan rubrik yang mampu menilai proses dan kualitas berpikir, bukan hanya jawaban benar-salah. Kelima, konsistensi kurikulum - Perubahan kurikulum harus diikuti pengembangan profesional guru, dukungan sekolah, sumber belajar, dan asesmen yang konsisten.

Dalam perspektif OBE, perubahan pembelajaran bukan hanya persoalan mengganti metode mengajar, tetapi membutuhkan keselarasan antara kurikulum, pembelajaran, asesmen, sumber belajar, dan kompetensi guru (Hasibuan, 2026).

Sekolah sebagai Ekosistem Pembelajaran Berbasis Cinta

Pada akhirnya, Bahasa Inggris Berbasis Cinta tidak dapat dibebankan hanya kepada guru Bahasa Inggris. Kepala sekolah perlu membangun budaya sekolah. Guru perlu menjadi teladan. Siswa perlu diberi ruang untuk berpartisipasi. Orang tua perlu mendukung. Lingkungan sekolah perlu menjadi sumber belajar. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Inggris tidak berdiri sendiri. Hal tersebut menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang memuliakan murid.

Menuju Bahasa Inggris yang Lebih Manusiawi dan Transformatif

Sudah saatnya kita memperluas definisi keberhasilan pembelajaran Bahasa Inggris.

Siswa yang berhasil bukan hanya siswa yang mendapatkan nilai 90. Siswa yang berhasil adalah siswa yang “mampu berkomunikasi, mampu berpikir, mampu menghubungkan pengetahuan, mampu bekerja sama, mampu menghargai perbedaan, mampu merefleksikan pengalaman, mampu menghasilkan gagasan, mampu menghargai budaya dan kearifan lokal, peduli terhadap lingkungan, dan mampu menggunakan Bahasa Inggris untuk menghadirkan manfaat. Di sinilah hubungan antara OBE, Cinta, Deep Learning, SOLO, dan Transformative EFL Education menjadi penting. “OBE memberikan arah capaian; Cinta memberikan orientasi nilai; Deep Learning memberikan kedalaman pengalaman; SOLO memberikan peta perkembangan berpikir; dan Transformative EFL Education menghubungkan semuanya dengan budaya, kearifan lokal, keberlanjutan, dan inovasi. Sementara Bahasa Inggris menjadi alat untuk menghubungkan semuanya.

Penutup: Dari Learning English ke Living the Values

Masa depan pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia tidak seharusnya hanya ditentukan oleh pertanyaan :"How well can students speak English?" Kita juga perlu bertanya "What kind of person do students become through learning English?" Pertanyaan kedua membawa kita pada hakikat pendidikan “Bahasa Inggris dapat menjadi alat untuk membuka jendela dunia. Tetapi pendidikan harus membantu siswa mengetahui bagaimana mereka berdiri di dunia tersebut dengan identitas, nilai, tanggung jawab, dan kemanusiaan.

Karena itu, Bahasa Inggris Berbasis Cinta bukan sekadar sebuah metode baru. Hal tersebut adalah cara pandang bahwa belajar bahasa adalah:

berkomunikasi dengan manusia; 

memahami kehidupan (teks); 

menyampaikan gagasan (berbicara) dengan adab;

belajar menyumbangkan pemikiran (menulis);

mengenal dunia tanpa kehilangan akar budaya;

Deep Learning membuat pembelajaran menjadi lebih sadar, bermakna, dan menggembirakan; 

SOLO membantu guru melihat perkembangan kualitas pemikiran siswa;  

OBE memastikan proses tersebut diarahkan pada capaian yang jelas.

pendidikan EFL transformatif menghubungkan pembelajaran bahasa dengan Islam, budaya, kearifan lokal, pembangunan berkelanjutan, dan inovasi pendidikan.

Pada akhirnya, kita tidak hanya ingin melahirkan siswa yang fluent in English, tetapi juga siswa yang fluent in humanity.Bahasa Inggris yang baik adalah bahasa yang mampu menghubungkan manusia. Pembelajaran yang mendalam adalah pembelajaran yang mampu mengubah pengetahuan menjadi pemahaman dan tindakan. Outcome-Based Education memastikan bahwa proses tersebut diarahkan pada capaian yang nyata. Pendidikan EFL transformatif memastikan bahwa capaian tersebut memiliki makna bagi manusia, budaya, masyarakat, dan lingkungan. Pendidikan berbasis cinta adalah pendidikan yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kebaikan.

Berita Lainnya

Index